Ini Pesan Terakhir Rani, Istri Yang Dibakar Suami Sebelum Hembusan Nafas Terakhir

Minggu, 21 Maret 2021, 3/21/2021 WIB
Oleh Redaksi

SNIPERS.NEWS | Deli Serdang - Masih segar diingatan pembaca Snipers.news terkait pemberitaan tragedi suami membakar istrinya hidup-hidup di Jalan Pasar 7 Beringin, Desa Tembung, Kecamatan Percut Sei Tuan, pada akhir Januari 2021 lalu.


Sebagai tulang punggung keluarga, Rani Andriani (20) akhirnya tak mampu bertahan atas deritanya akibat di bakar oleh suaminya sendiri beberapa bulan yang lalu.


Rani akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya, pada hari Jumat malam (19/03/2021) sekira pukul 22.25 Wib di Rumah Sakit tempat dirinya di rawat, dan sudah dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Jalan Rahayu Kecamatan Percut Sei Tuan pada Sabtu (20/03/2021) siang.


Sebelumnya, Media Snipers.news melalui Kabiro nya di Deli Serdang sempat mengumpulkan donasi, dengan melakukan penggalangan dana untuk biaya pengobatan Rani di Rumah Sakit.


Mendengar kabar kepergian Rani, media ini pun mencoba menghubungi Supriati, yang tak lain adalah Ibunda Rani tentang kebenaran kabar tersebut.


Supriati membenarkan kabar meninggalnya Rani. Sembari menahan isak kesedihan, Supriati mengulas sedikit kisi-kisi kehidupan Almh. Rani, bahwa Almh Rani memang anak yang baik, bahkan selama hidupnya Rani tidak pernah mendendam terhadap siapa pun yang berbuat jahat padanya.


Supriati juga sempat mengutip ucapan Rani sebelum menghembuskan nafas terakhirnya. "Kakak sudah maafin dia (suami-red), mamak jangan dendam ya mak, biarlah Allah yang balas," ucap Supriati menirukan ucapan Rani di detik-detik hembusan nafas terakhirnya.


Supriati juga mengungkapkan, bahwa sejak hari Kamis (18/3/2021) dan Jumat (19/3/2021), Almh. Rani sudah tidak mau makan dan minum, hal itu sangat jauh di luar kebiasaan sebelumnya.


"Dia (Rani-red) bahkan tidak mau makan, biasanya dia congok (lahap) kalau untuk makan. Beberapa hari ini Rani terus mengalami sulit bernafas. Dia bilang kakak kuat, tapi dia juga merasakan sulit untuk bernafas, infeksi sudah kena ke paru-parunya," ujar Supriati.


Hingga akhirnya, ungkap Supriati, pihak medis mengambil tindakan untuk memasukkan alat ke paru-paru korban lewat mulutnya.


"Anak saya sudah enggak mau, dia takut dimasukkan besi, tapi ditenangkan tim medis. Saya bilang ke dia, 'kakak (korban) berjuang ibarat naik pesawat, kalau nahas kita jatuh, kalau berhasil kita sampai bandara (sembuh)," tutur ibu korban dengan wajah sendu.


Namun Tuhan berencana lain, pasca dimasukkan alat bantu kedalam tubuhnya, kondisi Rani ngedrop hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.


"Saya sebenarnya juga gak nyangka, karena Rani mengatakan kalau dia masih kuat," kata Supriati sembari meneteskan air mata.*


(R. Anggi)

TerPopuler

> Whatsapp-Button