Gibran Bak Pepatah Dimana Ada Gula Disitu Ada Semut, Apakah Maksudnya ??

Thursday, May 25, 2023, 08:55 WIB
Oleh Redaksi

SNIPERS.NEWS | Solo - Setelah beberapa waktu yang lalu datang Prabowo Subianto dan ditemaninya makan malam serta bertemu relawan di sebuah restoran, disitu Gibran Rakabuming (Walikota Solo) juga turut berfoto bersama sembari ikut mengepalkan tangan. Alhasil, para pentolan partai jadi blingsatan.


Hingga pada akhirnya, Sang Walikota Muda inipun dipanggil ke Jakarta (Kantor DPP PDIP) untuk mengklarifikasi pertemuan antara dirinya (Gibran) dan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto, yang notabenenya merupakan calon Presiden dari partai berlambang kepala Garuda tersebut.


Usai pemanggilan itu semua menjadi senyap, hingga akhirnya begitu ia menutup pertemuan dengan pernyataan : "Saya tegak lurus dengan Ibu Ketum," kata Gibran.


Lalu kini, datang lagi Ganjar Pranowo, yang juga merupakan calon presiden besutan PDI Perjuangan, yang sesungguhnya merupakan atasan Gibran di Jawa Tengah. kedatangan Ganjar Pranowo disambut dengan cium tangan oleh Gibran, lalu keduanya makan malam bersama. Dunia gonjang-ganjing pun kian senyap.


Seperti diketahui, bahwa sebelum-sebelumnya, tokoh-tokoh nasional juga sudah datang sowan ke Solo, namun tak seru jika tidak bertemu Gibran. Padahal, anak ini siapa?, Dia hanya salah seorang Walikota dari 98 Walikota di Tanah Air ini.


Mengapa ke Gibran ?


Pertama, dia merupakan salah satu sosok yang menyenangkan dan menjadi perhatian publik. Kedua, ya tentu saja, dia anak Jokowi, presiden yang sampai sekarang pesonanya tak pudar-pudar.


Ya, Jokowi belum pudar. Orang boleh melempar teori politik soal "lame duck", ketika menjelang akhir kekuasaannya. Seorang tokoh bagaikan bebek lumpuh yang berjalan terseok-seok, megal-megol melempar pinggul kiri kanan tapi tak mengundang perhatian, perintahnya tak digubris, serta omongannya tak direken. Tapi Jokowi jauh dari bebek lumpuh, jauh dari apa yang dihinakan kepadanya.


Ia malah makin kinclong bak cermin dihadapan rakyatnya terlebih dengan singgasananya. Setiap geraknya dibaca, air mukanya ditafsir, dan ucapannya masih menggema. Kepuasan publik diberbagai jajak pendapat terhadapnya malah kian melambung tinggi. Tak dipungkiri, harapan khalayak masih menggantung kepadanya.


Dari hasil survei Litbang KOMPAS, lembaga yang tidak dibayar politisi untuk menggelar jajak pendapat, 15 persen pemilih menunggu arahan Jokowi untuk menentukan calon presiden di 2024. 15 persen, itu angka yang sangat besar di tengah elektabilitas para tokoh yang beredar paling tinggi di angka belasan.


Jika pengaruh Jokowi masih begitu tinggi, tak heran jika orang-orang mengejar tuah sampai ke lingkaran terdekatnya, antaranya si sulung di Loji Gandrung, Surakarta, yakni Gibran Rakabuming, yang saat ini masih menjabat Walikota Solo.



Gibran Adalah Ujung Tombak PDIP di Masa Depan, Benarkah?


Bagi sebagian orang, Gibran masih dianggap sebagai politisi anak kemaren sore, nama Gibran masih berada di bawah bayang-bayang Pakde Jokowi. Perlu upaya untuk lepas dari konotasi tersebut untuk menjadi tokoh besar di masa depan.


Seorang anak tentu saat maju ke pentas politik, selalu dihubung hubungkan dengan kuasa ayahnya. Lihat saja si Putra Cikeas, malah ia sudah terjun duluan dalam politik dalam 6 tahun terakhir, sampai sekarang masih selalu dianggap bidak pion yang maju sesuai perintah si ayah.


Gibran mengambil langkah yang benar. Segala pergerakannya pasti sudah dikomunikasikan dengan PDIP. Partai yang dipimpin Ibu Mega itu sudah terbukti paling ahli dalam melangkah. Sebagai partai pemenang, itu adalah bukti banyak ahli strategi yang selalu bisa diajak diskusi oleh Ibu Mega dalam mengambil keputusan.


Lihat saja langkah PDIP tahun lalu. Ganjar sengaja ditampakkan sebagai orang yang bukan capres. Sewaktu ada acara sengaja duduk di barisan belakang. Bukan di deretan VVIP. Padahal saat itu survey sudah menyatakan, bahwa calon terkuat adalah Ganjar.


Ibu Mega tahu, bahwa rasa empati rakyat Indonesia sangat besar. Hal ini menjadi kekuatan dan kelemahan bagi rakyat negara ini. Rakyat lebih memilih dan memberikan perhatian pada tokoh yang terzalimi, tokoh yang terjajah. Lihat bagaimana Bambang Pacul menganggap remeh Ganjar. Apa itu sengaja?. Ya jelas itu sengaja, itu semua di bawah strategi Ibu Mega.


Ganjar sendiri bagaimana?, Ya Ganjar sebagai orang PDIP, selalu loyal. Tidak pernah terpikirkan olehnya untuk berkhianat. Terbukti saat PSI mencalonkan Ganjar. Apa jawaban Ganjar? "PSI itu siapa?". Begitulah jawabannya saat dikonfirmasi oleh wartawan. Artinya, meski Ganjar "seakan akan" dipinggirkan oleh PDIP, Ganjar tetap setia. Ini syarat seorang pemimpin sejati.


Kembali ke Gibran. Dia beruntung berada di tengah partai yang berisi orang-orang hebat. Mungkin 2034 dia jadi RI, itupun kalau jalan politiknya mulus. Tapi paling tidak, dia sudah berada di tempat yang tepat.*


(R - 1)


Oleh : GP24P

TerPopuler