Peternak Keluhkan Anjloknya Harga Daging Babi, Pemerintah Slow Response

Minggu, 17 Desember 2023, 21:50 WIB
Oleh Arifin Soeparni

    Beberapa ekor babi di peternakan.                    (sumber  : Freepik)

SNIPERS.NEWS l Bangli - Kurun waktu delapan bulan terakhir ini, harga daging babi mengalami penurunan, hal ini dikeluhkan oleh hampir semua peternak babi di wilayah Bali.

Penurunan harga daging Babi diduga oleh sejumlah faktor, termasuk kekacauan di tingkat pengiriman serta persaingan yang tidak sehat antar pelaku pengiriman.

"Sudah hampir delapan bulan ini harga daging babi anjlok. Sekarang harganya berkisar Rp25.000,-  atau paling tinggi Rp29.000,- per kilogram," sebut Ketua Gabungan Usaha Peternak Babi Indonesia (GUPBI) Bali I Ketut Hari Suyasa kepada awak media, pada Sabtu (16/12/2023).

Terkait hal itu, pihaknya sangat menyayangkan atas respon Pemerintah Provinsi Bali yang dinilai pasif dalam persoalan ini.

"Intinya semua ini sebenarnya disebabkan oleh ketidakpedulian pemerintah terhadap peternak. Saya sudah mengingatkan sejak delapan bulan yang lalu, bahwa akan terjadi kehancuran harga babi, tapi pemerintah tidak mau peduli," ungkapnya.

Sebelumnya, Suyasa mengaku telah memprediksi terjadinya penurunan harga babi, namun pemerintah tidak kunjung memberikan atensi.

"Saya sudah bersurat ke Pak Koster saat beliau masih menjabat sebagai Gubernur Bali, untuk melakukan tindakan penyelamatan kepada peternak babi, karena kita prediksi akan ada kehancuran harga. Ketiga kalinya rencana audiensi dibatalkan jam satu pagi," sesalnya.

Kini, dirinya mengaku telah melakukan upaya audiensi kepada Pj. Gubernur Bali Sang Made Mahendra Jaya. Namun, rencana tersebut masih belum digubris.

"Kami sudah keempat kalinya bersurat ke Pak Pj. Gubernur Bali dan susahnya bukan main. Kami ini bukan demo, hanya ingin memberi tahu situasi peternak babi saat ini, tapi tidak diberikan ruang dan waktu. Andai pemerintah delapan bulan yang lalu mendengarkan kami, maka kejadian ini tidak ada," ujarnya.

Akibatnya, imbuh Suyasa, peternak babi saat ini ditaksir mengalami kerugian sebesar Rp.1.200.000,- hingga Rp. 1.500.000,- per ekornya.

"Inikan kompetisi yang tidak baik antara pelaku pengirim yang dimanfaatkan. Kemudian, oleh pembeli babi di luar wilayah kita dan pelaku sibuk berperang saling memurahkan harga, sehingga menekan harga produksi babi di sini. Maka, kemarin kami meminta pemerintah melakukan ambang batas harga terendah delapan bulan yang lalu," terangnya.

Sementara itu, Ketua Komisi II DPRD Provinsi Bali IGK Kresna Budi mengatakan, penurunan harga babi disebabkan oleh peraturan di wilayah penerima daging babi, pasca-merebaknya Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) pada hewan ternak.

"Seperti untuk Kalimantan Barat sekarang diperketat, syukurnya masih diberikan solusi untuk kita bisa memasok babi dari jalur laut. Ini juga kan berkaitan dengan supply and demand. Maka, apabila supply berlebihan maka harganya turun," sebutnya.

Pihaknya mengaku, sebelumnya telah melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait, termasuk peternak babi mengenai kondisi ini. 

"Sering kami adakan diskusi, terakhir kira-kira dua bulan yang lalu," tepisnya, sembari dirinya berharap ke depan harga babi kembali stabil.

"Setelah ini, semoga daerah penerima babi sudah bisa lepas dari penyakit, karena ini kan situasi. Kita juga harus menjaga dan melakukan pengawasan serta harus menghormati aturan wilayah lain," pungkasnya.

(Arifin)

TerPopuler