Diduga Jadi Ajang Pungli, Program Pamsimas Melibatkan Oknum RT dan KKM

Jumat, 17 September 2021, 9/17/2021 WIB
Oleh Redaksi

SNIPERS.NEWS | Tuba - Program Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) telah menjadi salah satu program andalan nasional (Pemerintah dan Pemerintah Daerah) untuk meningkatkan akses penduduk perdesaan terhadap fasilitas air minum dan sanitasi yang layak dengan pendekatan berbasis masyarakat.

Namun disayangkan, penyaluran air tersebut diduga jadi ajang pungli oleh oknum Ketua RT berinisial S.

Pasalnya, beberapa warga menuturkan, pemasangan meteran bagi warga Kampung Suka Maju, Kecamatan Banjar Margo, Kabupaten Tulang Bawang (Tuba) yang akan mengunakan air bersih tersebut dipungut biaya Rp. 270 ribu per orang, dengan alasan untuk biaya pembelian meteran dan biaya listrik.

Keluhan terkait pungutan tersebut diungkapkan oleh Poniyem yang berstatus janda dan menumpang rumah di plasmen. Dirinya sudah mengaliri air dan memasang paralon untuk menikmati air bantuan tersebut belum lama.

Mirisnya, karena tidak dapat bayar langsung dibongkar oknum RT berinisial S.

"Saya nyalur air dari Pamsimas, karena saya gak punya duit dan keberatan dengan biaya Rp. 270 ribu buat bayar meteran dan arus listrik gak bisa bayar, paralon saya dilepas sama pak RT," ucapnya dengan nada sedih.

Hal senada juga disampaikan Uun. Dia mengaku sudah sempat menikmati air Pamsimas dalam waktu seminggu, karena tidak bisa membayar, paralon nya pun dilepas.

"Kira saya gak bayar, saya ya seneng gratis, ternyata suruh bayar Rp. 250 ribu, saya keberatan. Ada uang juga mau buat beli obat anak saya dulu, tiba-tiba malam sudah tidak ada lagi sudah dilepas sama Mas Suyadi dan Wayan," kata Uun.

Selain itu, Eka, yang berada tepat di depan Pamsimas juga menuturkan, bahwa dirinya pun diminta mengeluarkan biaya tersebut agar dapat menikmati air yang diberikan pemerintah, ia pun merasa keberatan dengan biaya itu.

"Ya keberatanlah, kalau disuruh mengeluarkan biaya segitu, kirain gratis," ungkapnya dengan nada lesu.

Saat wartawan mendatangi kediaman Kepala Kampung serta Ketua Kelompok Keswadayaan Masyarakat (KKM) dalam waktu dua kali, untuk konfirmasi serta meminta tanggapan terkait keluhan masyarakat, sayangnya Kepala Kampung tidak ada di rumah, pintu rumah dalam keadaan terbuka namun tidak ada orang.

Melalui pesan WhatsApp nya, Kepala Kampung Sutrisno dimintai tanggapannya terkait informasi tersebut, ia mengatakan, "gak ada yang perlu ditanggapi, karena itu semua tidak benar, di mana punglinya, lagian warga yang keberatan dari 55 cuma tiga orang yang bicara, tolong datengin semua dan temui warga yang nyalur Pamsimas," katanya.

Selanjutnya, wartawan mendatangi kediaman Suyadi sebagai RT, ia pun mengakui bila ada pungutan Rp. 270 ribu.

"Memang benar ada penarikan, Ya saya hanya disuruh bantu sama Budi dan Wayan selaku KKM, karena kebetulan di wilayah saya. Kami juga sudah musyawarah dihadiri Kepala Kampung, tapi hanya ada foto-foto saja, tidak ada hasil tertulis musyawarah nya," ujarnya.

Namun beberapa warga mengatakan, bahwa mereka tidak mengetahui jika ada musyawarah, dan hasilnya pun tidak dikasih tahu.

"Kami tidak dikasih tau kalau ada musyawarah, serta tidak dikasih tau juga hasil musyawarahnya apa," ucap warga.

Warga Suka Maju berharap, agar pihak terkait dapat mengkroscek kelapangan, supaya air Pamsimas tersebut tidak jadi ajang pungli.

Sampai berita ini terbit, Budi selaku Ketua Kelompok Keswadayaan Masyarakat (KKM) belum dapat di konfirmasi.*

(Sandi)

TerPopuler

> Whatsapp-Button