Selama Covid-19, PLTM Lawe Sikap Tetap Membangun Untuk Negeri

Jumat, 04 Juni 2021, 6/04/2021 WIB
Oleh Redaksi

SNIPER.NEWS | Kutacane - Situasi perekonomian dunia babak-belur dihantam pandemi Covid 19. Tak terasa, sudah dua tahun menjalani situasi bergelut dengan wabah penyakit mematikan dan menular.

Korban jiwa sudah tak terhitung, demikian juga halnya dengan usaha baik mikro ataupun makro, turut merasakan imbasnya.

Akibatnya, jutaan pekerja terpaksa di PHK serta dirumahkan. Berbagai cara dilakukan pemodal agar usaha tak gulung tikar alias bangkrut, sehingga menambah kesengsaraan para pekerja.  
                                     
Situasi ini juga dirasakan sebagian besar pemilik usaha di Aceh Tenggara (Agara). Ada upaya untuk bertahan, sehingga karyawan tetap bisa bekerja dan menafkahi keluarganya.

Dalam situasi pelik ini, investor Pembangkit Listrik Tenaga Mini Hidro (PLTM) Lawe Sikap yang sudah hadir Kutacane, Aceh Tenggara sejak 2017 terus bertahan.

Meski dalam kegentingan ekonomi global, rela menggelontorkan investasi ratusan miliar rupiah demi membuka lapangan kerja bagi anak negeri. Sekaligus menjadi solusi problem kelistrikan di wilayah Agara.

Betapa tidak, dengan adanya PLTM Lawe Sikap, seakan membuka kesempatan bagi investor-investor lain yang ingin menanamkan modalnya.

Karena selama ini, diketahui daya listrik untuk Aceh Tenggara dipasok dari Sumut. Sehingga sangat rentan bisa terjadi gangguan, yang berakibat putusnya aliran setrum ke Bumi Sepakat Segenep ini. 

Dengan hadirnya PLTM Lawe Sikap, tentu membawa angin segar dalam dunia investasi di Negeri Serambi Mekah. Orang luar akan melihat, membuka mata, bahwa berinvetasi di Aceh tidaklah pelik. Baik dari segi perizinan, sosial budaya, terutama masyarakatnya sangat terbuka.

Semua ini tentu untuk kepentingan bersama. Investor bisa menarik untung, demikian halnya juga dengan pihak Pemerintah Daerah bisa menambah PAD, yang mana tujuan akhir dimanfaatkan bagi masyarakat banyak.

Yang paling dicari investor dalam menginvestasikan modal tentu adalah keamanan dan kenyamanan. Bagi pebisnis, bila melihat suatu daerah itu kondusif wilayahnya, serta penduduk lokal mau menerima kehadiran pembangunan, maka dipastikan perekonomian bakal maju pesat. 

Apalagi didukung dengan pemerintahan setempat. Misalnya dengan cara mempermudah izin, tanpa ada tetek bengek dan mempersulit pengembangan usaha, semua akan merasakan dampak positif dari kemajuan tersebut, karena roda ekonomi telah berputar memberi penghidupan layak bagi masyarakat Aceh Tenggara.

PLTM Lawe Sikap sebagai salah satu perusahaan yang menjual setrum (listrik), tentunya menginginkan kenyamanan dalam menjalankan usaha. Apalagi setelah semua persyaratan telah dipenuhi, maka tidak ada alasan bagi pihak manapun menghalangi perusahaan ini untuk berkarya memberikan yg terbaik untuk negeri.

Sangat disayangkan, beberapa waktu lalu terdengar ada riak-riak perseteruan antara PLTM Lawe Sikap dengan PDAM Tirta Agara. Persoalan ini pun di blow up oleh puluhan media massa, baik itu cetak maupun elektronik (online).

Persoalan air disebut jadi pemicu, sehingga mengganggu kenyamanan kedua belah pihak dalam melakukan aktivitasnya. Namun, yang paling parah nantinya bisa saja merembes hingga ke pelayanan masyarakat menjadi korban.

Dalam kasus ini, pihak Pemda diminta secara tegas turun tangan, menjadi penengah sekaligus penyelesai konflik. Memberikan solusi, sehingga tercapai win- win solution bagi PLTM Lawe Sikap dan juga PDAM Tirta Agara.

Jangan biarkan persoalan tersebut berlarut-larut. Investor ingin kepastian antara terus atau stop. Selain itu, Pemda juga diminta memperhatikan PDAM Tirta Agara. Bukan berarti menyelamatkan yang satu, namun yang lain harus terpuruk.

Lambannya penyelesaian sengkarut air ini oleh Pemda yang dianggap sebagai penengah, bisa menjadi preseden buruk. Citra negatif pun bisa saja tercipta, mengarah kepada Kepala Daerah. Tentu kita semua tidak mau hal ini terjadi.

Bisa saja ada orang lain menunggangi, membuat masalah semakin keruh. Akhirnya berdampak ke pihak pemodal. Mereka akan merasa bosan dengan menggantungnya persoalan air tersebut, lalu menghentikan investasi serta mengalihkan kucuran dana ke daerah lain. Siapa yang rugi? Siapa yang untung?. 

Akhirul Kalam, harapan ke depan, marilah kita sikapi persoalan ini dengan kepala dingin. Duduk bersama, saling berkonsultasi, memberi masukan positif, sehingga nantinya ada kesepakatan terbaik bagi kedua belah pihak dan berefek positif untuk masyarakat banyak.*

Opini : Oleh Armalek

TerPopuler

> Whatsapp-Button