Antara Jurnalis, Covid-19 dan Garda Terdepan

Senin, 12 Juli 2021, 7/12/2021 WIB
Oleh Redaksi

SNIPERS.NEWS | Surabaya - Selama pandemi, banyak profesi yang disebut sebagai garda terdepan. Tenaga kesehatan, TNI Polri, tenaga transportasi dan telekomunikasi, yang sering disebut-sebut. Pentingnya peran mereka memberi keleluasaan melewati batas kota dan portal pengaturan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM). Tanpa cegat.

Lalu bagaimana dengan pekerja media. Wartawan yang juga harus terus mengajikan informasi kepada masyarakat. Mereka juga harus berisiko terpapar Covid-19. Tapi perlindungan kepada mereka kurang. Bahkan mereka ini tidak pernah disebut sebagai garda depan.

Meski para kuli tinta tidak disebut sebagai garda depan atau pahlawan dalam menangani Covid-19 ini. Tapi dengan iklas berkerja untuk menyuarakan berita secara global, lebih-lebih soal asal-muasal penyakit yang mematikan ini yakni Corona Virus Disease (Covid-19). 

Bagi jurnalis, tidak penting embel-embel seperti garda depan bahkan sebagai pahlawan. Bukan juga mereka ingin disebut sebagai garda terdepan dan pahlawan. Tanpa perlindungan sekalipun, mereka tetap berkarya. Tetap menyajikan informasi terbaru kepada pembacanya (masyarakat).

Andai disebut pahlawan, tentu akan memberi beban tersendiri. Embel-embel sebagai pahlawan justru akan membenani jurnalis. Tidak ringan lagi tugas-tugasnya. Itu yang ditakutkan oleh wartawan. 

Bagi mereka, jurnalistik sudah menjadi urat nadi. Tanpa perlindungan sekalipun, mereka tetap berkarya. Tanpa liputan bagi mereka nyaris tanpa kehidupan. Terasa mati sebelum nyawa melayang. Hidup hampa dan sia-sia.

Rasanya, hanya ada dua hukum yang mereka patuhi. Kode etik jurnalistik dan Undang-undang Nomer 40 tahun 1999. Tentu dibarengi dengan etika dan patuh norma yang berlaku. Tidak akan mungkin jurnalis menabrak aturan di sekitarnya. Apapun itu.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Bangsa-Bangsa di Asia Tenggara (ASEAN) Lim Jock Hoi menekankan pentingnya peran media dan jurnalis dalam membangun opini publik dan memberantas informasi salah selama pandemi Covid-19.

“Pandemi (COVID-19) ini telah menunjukkan, lebih dari sebelumnya, peran penting jurnalis dan editor dalam menjalankan jurnalisme yang bertanggung jawab dengan memberantas informasi yang salah yang dapat menyebabkan kebingungan dan kepanikan di masyarakat," kata Sekjen ASEAN Lim Jock Hoi.

Pernyataan itu disampaikan Sekjen ASEAN dalam pidatonya saat membuka Forum Media ASEAN yang dilaksanakan secara virtual pada Selasa, 24 November 2020

Dia mengatakan bahwa peran media dan jurnalis sangatlah penting dalam menyediakan informasi dan mendidik masyarakat ASEAN di tengah banyaknya informasi selama masa pandemi. "Karena itu, kami bergantung pada anda (media) dalam membantu kami menginformasikan, mendidik, dan memberdayakan masyarakat ASEAN," ujar dia.

Lim Jock Hoi lebih lanjut mengatakan bahwa peran media sebagai penggerak perubahan sangat penting dalam mewujudkan integrasi ASEAN dan agenda pembangunan komunitas ASEAN.

"Narasi-narasi yang diusung oleh media berkontribusi dalam pembentukan opini publik, terutama dalam pembentukan keyakinan dan sikap atas upaya berkelanjutan kita dalam meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan di kawasan ASEAN," kata Sekjen ASEAN itu.

Wahai para jurnalis, tetaplah berkarya. Tuhan bersama kita.*

Opini

Oleh : Khoirul KJJT

TerPopuler

> Whatsapp-Button