Ketua DPW Petanesia Bali Kecam Keras Pernyataan AWK Tentang Perempuan Berhijab Yang Bekerja di Bandara Ngurah Rai

Selasa, 02 Januari 2024, 22:14 WIB
Oleh Arifin Soeparni

SNIPERS.NEWS | Denpasar - Seperti yang AWK sampaikan, bahwa frontliner di Bandara I Gusti Ngurah Rai harus perempuan Bali yang memperlihatkan rambutnya, bukan yang berhijab tidak jelas.

"Ini sangatlah jelas, sudah masuk ranah penistaan agama," terang Ketua Dewan Pimpinan Wilayah Pecinta Tanah Air Indonesia (DPW Petanesia) Provinsi Bali Bima Prasetya, S.E., kepada awak media Snipers.news di Denpasar, Selasa (02/01/2024).

"Sebagai seorang anggota DPD RI mewakili Bali yang dikenal sebagai percontohan kehidupan Indonesia yang Pancasilais ber-Bhinneka Tunggal Ika dengan pernyataannya yang rasis tersebut sangatlah mencoreng citra Bali sebagai pulau yang penuh toleransi antar umat beragamanya," ungkapnya.

Bukan hanya sekali ini saja, lanjut Bima, AWK mengeluarkan pernyataan yang berbau rasis. "Berulang kali dirinya sering menunjukkan sifat rasisnya, tidak hanya soal agama, soal ke-suku-an pun pernah dia lakukan. Seperti istilah Nak Dauh Tukad bagi para pendatang atau perantau dari luar Bali, sehingga akhirnya istilah tersebut sering dipakai oleh beberapa oknum warga Bali untuk menghina warga pendatang," tuturnya.

Pernah juga AWK hampir membuat kerusuhan konflik massa di kampung muslim di Candi kuning Bedugul, Tabanan. Kalau tidak diredam oleh beberapa tokoh muslim di daerah tersebut, bisa menjadi konflik antar agama, saat AWK menyatakan, harusnya di Bedugul ini yang jualan itu pedagang Bakso Babi. Pernyataan tersebut diungkapkan dirinya karena banyak pedagang bakso yang beragama Islam di Bedugul.

Lebih lanjut Bima Prasetya mengungkapkan, AWK yang selalu menjual nama kebesaran proklamator Indonesia, Bung Karno demi mengangkat nama dirinya, malah mencoreng nama kebesaran Presiden Indonesia yang pertama (Soekarno-red) dengan perilaku dan pola pikirnya yang rasis di pulau Bali ini.

"Hal ini tidak bisa dibiarkan terus menerus, seakan-akan apa yang disampaikan oleh AWK sesuatu hal yang lumrah," ujar Bima. 

"Rasialisme tidak boleh terjadi di pulau yang penuh toleransi yang dilakukan oleh siapapun juga. Kita harus merawat Kebhinekaan di Bali sebagai bentuk menjaga NKRI tetap ber-Pancasila," jelasnya.

"AWK harus ditindak tegas demi menjaga keharmonisan antar umat yang sudah terjaga sejak ratusan tahun lalu," pinta Bima.

Sebagai penutup, Bima Prasetya menyampaikan hal yang sangat tegas, "AWK bukanlah Senator, tetapi seorang Provokator," tutupnya.*

(Arifin)

TerPopuler